Minggu, 05 September 2010

Mengajarkan Ritmis

Mengajarkan ritmis pada anak yang sudah cukup besar tidaklah menemukan hambatan yang cukup berarti, namun pada anak kelas dua ke bawah cukuplah sulit. Jika menggunakan cara konvensional dalam menghitung, anak akan bingung antara hitungan sukat dengan durasi ritme. Sebagai contoh, tidaklah sulit untuk mengajarkan not penuh (4 ketuk) karena nilai not sama dengan jumlah ketukan pada sukat 4/4. Cara konvensional, guru akan menuliskan ketukan sesuai dengan sukat seperti gambar di bawah ini.

Namun jika ada ritme yang lebih kompleks seperti di bawah ini, maka akan muncul masalah.


Murid biasanya akan menjawab dengan tepat jika ditanyakan nilai not pertama, yaitu dua ketuk. Namun, akan menjawab salah untuk not 1/4 pada ketukan ketiga dan keempat karena angka ketukan sukat yang ditulis. Umumnya mereka akan menjawab 3 ketuk jika ditanya berapa nilai not kedua (pada ketukan 3) dan jika ditanyakan berapa nilai not ketiga (pada ketukan 4) maka mereka akan menjawab nilai nadanya adalah 4.


Jika murid mendapatkan lagu seperti potongan di bawah ini.
Anak biasanya bingung dalam menetapkan nilai not, nomor penjarian, dan ketukan ke berapa pada birama tersebut. Kebingungan akan semakin bertambah jika dijelaskan bahwa yang satu ketuk itu adalah not seperempat dan berdasarkan tanda sukat yang juga adalah bilangan pecahan. Ini akan menyulitkan jika mengajar anak yang belum belajar pecahan di sekolahnya.. Waktu kecil, pecahan merupakan hal yang sangat sulit sehingga dalam mengajarkan nilai nada, saya cenderung menghilangkan penjelasan mengenai pecahan.

Untuk mengatasi hal tersebut, ada dua pendekatan yang dilakukan dalam mengajarkan ritme.
1. Memodifikasi metode konvensional.
Jika anak sudah dapat berhitung minimal sampai angka empat, maka cara ini digunakan. Simbol ritme hanya diperkenalkan dengan durasinya. Jadi simbol ritme diasosiasikan dengan hitungan ketukan. Sebagai contoh

2. Menggunakan metode Kodály
Kodály menggunakan istilah rhythm syllables untuk memudahkan dalam belajar ritme. Setiap not diberi sebuah silabel sebagai sebagai contoh not seperempat diberi silabel "ta" dan not setengah diberi silabel "ta-a" (ada yang menggunakan "doo" atau "tao"). Jika melodi di atas ditulis dengan rhythm syllables maka akan seperti di bawah ini.

Dengan cara ini, kita diajak untuk belajar lewat merasakan bukan dengan berpikir seperti metode konvensional.
Secara pribadi, saya lebih senang dengan cara kedua karena musik berkaitan erat dengan rasa. Selain itu, saya tidak menyenangi matematika apa lagi pecahan.


Minggu, 29 Agustus 2010

Mengatasi Demam Panggung ala Ferdy Tumakaka

Setiap orang yang akan pentas di depan penonton tentu mengalami demam panggung. Demam panggung terjadi bisa disebabkan karena situasi di panggung yang berbeda dengan ruang latihan, ekspektasi yang tinggi dari penonton, dan lain sebagainya. Berikut ini, Ferdy Tumakaka, seorang pianis Indonesia yang telah lama malang melintang di dunia, akan membagikan cara-cara untuk menghilangkan demam panggung.

1. Tidur cukup malam sebelumnya

2. No caffeine dan nicotine 2 jam sebelum naik panggung

3. Potassium sangat membantu untuk menenangkan saraf (bisa ditemukan di buah-buahan seperti pisang, kiwi, dsb.)

4. Meditasi dan beragam teknik pernafasan dapat sangat membantu untuk mengatasi demam panggung.

5. Alexander Technique bisa membantu tidak hanya saat demam panggung, tapi juga untuk kegiatan sehari-hari.

6. Pusatkan pikiran pada bahan yang akan dimainkan, terutama not pertama, bagaimana memulai karya tersebut. Nyanyikan awal karya tersebut dengan tempo sedikit lebih lambat dari yang anda kira seharusnya.

7. Jika anda cenderung tegang pada saat sebelum naik panggung, identifikasi pusat ketegangan, kenali dan coba untuk rileks dan rasakan darah anda mengalir ke ujung2 jari.

8. Tips terakhir: demam panggung bukanlah musuh anda, malah bisa menjadi sahabat terbaik anda. Jadi cobalah mengerti bahwa demam panggung itu wajar, dan kenali tendensi2 pribadi yang kerap muncul saat demam panggung dan belajar bagaimana menerima reaksi2 tersebut.

Alhasil, anda akan mengenali bagaimana tubuh anda bereaksi di saat gugup, mengambil alih dan membiarkan musik mengalir dari jari-jemari anda.

Minggu, 22 Agustus 2010

Kapan Usia yang Tepat untuk Mulai Belajar Piano?

Seorang ibu bertanya kepada seorang guru piano, "Apakah anak saya sudah telat belajar piano?" "Berapa usia anak ibu?" tanya sang guru. "Tujuh tahun." jawab sang ibu. Sang guru menjawab, "Berarti sudah telat belajar delapan tahun."

Illustrasi di atas menggambarkan bagaimana pentingnya belajar musik dari usia yang sangat dini bahkan dari dalam kandungan karena indera pendengaran adalah indra yang paling pertama berkembang. Oleh karena itu, harus terus diberi stimulus agar terus dapat berkembang dengan maksimal. Namun, bayi yang sudah berusia dua atau tiga tahun pun sulit untuk mulai belajar piano apalagi dalam kandungan.

Di Australia, guru piano menerima anak yang mulai belajar pada usia 7 tahun. Kadang kala 6 tahun. Hal itu disebabkan karena pada usia tersebut perkembangan otak anak sudah dapat mengerti simbol (abjad dan not), perkembangan motorik halus sudah terbentuk, dan anak sudah dapat menfokuskan perhatian untuk jangka waktu yang cukup lama.

Namun, tidak dipungkiri bahwa pianis-pianis yang virtuoso memulai pelajaran pada usia yang sangat dini, yakni sekitar tiga atau empat tahun. Lang Lang, mulai belajar piano dari umur tiga tahun dan pada umur lima tahun, ia sudah memenangkan Shenyang Piano Competition. Jadi, jika mulai belajar piano pada usia enam atau tujuh, maka sudah dikatakan terlambat untuk menjadi seorang concert pianist. Pendapat lain berkata bahwa ketika anak sudah dapat meletakkan jari-jarinya, satu jari untuk satu tuts tanpa kesulitan, maka ia sudah dapat mulai belajar piano. Nah, dari sekian banyak pendapat tersebut, manakah yang tepat?

Pembelajaran musik atau piano dibagi dalam dua kelompok yaitu lewat pendidikan formal (seperti di sekolah atau kursus) dan non formal. Jika seorang ibu menyanyi untuk menina-bobokan anaknya, maka pendidikan musik non formal sudah terjadi. Dewasa ini, bayi dalam kandungan pun sudah diperdengarkan musik yang nota bene juga merupakan pendidikan musik non formal.

Untuk mempersiapkan anak untuk menempuh pendidikan musik secara formal maka haruslah melihat kesiapan dari orang tua dan juga anak.

A. Orang tua

1. Apakah orang tua sanggup menyediakan piano (minimal piano digital) untuk anaknya?

Ini penting, karena jika tidak memiliki piano, anak dapat berlatih. Kadang orang tua menyatakan, cukup beli yang seadanya. Jika sang anak akhirnya tidak tertarik untuk belajar lagi, maka kerugian membeli piano yang mahal dapat dikurangi. Hal ini sama sekali tidak disarankan. Mengapa? Karena anak yang baru belajar, guru akan membentuk fondasi yang kokoh untuk mendukung ketrampilan anak bermain piano kelak. Fondasi yang kuat dan kokoh tidak akan terbentuk. Beberapa murid piano jadi malas belajar hanya karena tuts pianonya 'lengket' dan tidak bunyi. Apakah anak akan terus belajar atau tidak, itu tergantung dari kesiapan anak (yang akan dibahas berikutnya) dan kepiawaian gurunya memotivasi anak.

2. Apakah dapat mengalokasikan dana secara regular?
Dalam hal ini, untuk membayar biaya kursus setiap bulan dan jika memiliki piano akustik, sanggup membayar biaya penalaan piano minimal dua kali setahun (baca : Mengapa dan Kapan Piano ditala?)

3. Apakah dapat mengalokasikan waktu?
Jika anak belajar piano, maka orang tua harus meluangkan waktu minimal untuk mengantar jemput anak ke dan dari tempat kursus. Jika berhalangan, orang tua dapat mendelegasikan tugs tersebut pada orang lain yang dapat dipercaya. Selain itu, apakah orang tua sanggup meluangkan waktu untuk menemani anaknya berlatih setiap hari jika diminta sang anak untuk menemani serta mengontrol kemajuan belajar? Berbeda dengan kursus lainnya (matematika, misalnya), kursus piano butuh latihan secara kontinyu setiap hari, bukan hanya di tempat kursus saja.

4. Apakah orang tua dapat memberikan dukungan moril?

Selain memberikan semangat untuk terus berlatih, dukungan orang tua dapat berupa kehadiran jika sang anak ikut resital. Dukungan moril lainnya dapat berupa memberi apresiasi kepada anak dengan mengajak nonton konser piano, baik secara langsung maupun lewat CD/DVD. Secara singkat, mampukah orang tua menciptakan lingkungan bermusik yang baik bagi anak. Untuk anak yang lebih kecil, dukungan moril berupakehadiran orang tua untuk ikut duduk dalam kelas menemani anak untuk belajar. Pada saat di rumah,  orang tua dapat meluangkan waktu untuk menemani anak berlatih.

B. Anak

Sebenarnya hanya satu pertanyaan penting yang harus dijawab dengan melihat minat anak, yaitu:

Apakah anak menunjukkan tanda-tanda menyukai musik dan piano pada khususnya?

Setiap anak unik dan berbeda. Ada anak yang gemar mencorat coret, sementara anak lain seusianya gemar menyusun benda-benda, sementara lainnya gemar bernyanyi, dan lain sebagainya. Jika anak menunjukkan minat kepada musik, maka mungkin saat yang tepat untuk mulai belajar musik.

Pertanyaan hanya perlu dijawab jika anak hendak mengikuti kursus musik dengan metode konvensional. Pertanyaan-pertanyaan tersebut antara lain:

1. Apakah anak sudah sanggup untuk memusatkan perhatian minimal selama 30 menit?

Pada umumnya, anak yang berusia dibawah 6 tahun cepat bosan. Jadi untuk dapat mengikuti pelajaran piano dengan baik, anak harus bisa berkonsentrasi pada pelajarannya. Namun pada metode non konvensional, guru biasanya melakukan banyak aktivitas pada saat kursus sehingga anak tidak akan cepat bosan. Jadi peran guru sangatlah penting agar anak tidak menjadi bosan sebelum jam pelajaran berakhir. 

2. Apakah fisiologi anak sudah memadai untuk instrumen piano?

Gurulah yg dapat menjawab pertanyaan ini. Pada umumnya guru akan melihat apakah kelima jari dapat diletakkan pada tuts, satu jari satu tuts tanpa susah payah.

3. Apakah anak sudah bisa membaca atau mengenal simbol?

Pada metode konvensional, murid belajar membaca notasi balok (bukan berarti membaca notasi balok tidak penting untuk metode non konvensional). Murid harus dapat mengerti simbol notasi balok dan menerjemahkannya menjadi bunyi. Anak yang mampu menerjemahkan simbol biasanya sudah bisa membaca atau perkembangan kognitifnya sudah sampai pada perkembangan opersional konkrit, menurut teori Piaget. Tahapan perkembangan kognitif ini terjadi pada sekitar umur tujuh tahun, oleh karena itu biasanya guru menerima murid piano pada usia 7 tahun atau setidaknya 6 tahun. 

Ketiga hal terakhir dapat diatasi dengan guru dan metode yang tepat. Untuk mendapatkan guru dan metode yang tepat adalah gampang gampang sulit karena harus disesuaikan dengan sang anak yang memiliki karakter yang berbeda-beda antara satu anak dengan lainnya.

Minggu, 15 Agustus 2010

Mengapa dan Kapan Piano Ditala?

Memiliki piano berarti harus menyediakan duit ekstra secara berkala untuk menalanya. Menala (atau stem atau tuning) perlu dilakukan pada jangka waktu tertentu agar bunyi yang dihasilkan piano tetap harmonis berdasarkan hukum akustik dan estetika.
Sebenarnya pemilik piano lebih beruntung dibandingkan pemilik biola, misalnya. Piano cukup ditala selama selang waktu beberapa bulan sekali, sedangkan biola harus ditala setiap kali dimainkan. Lebih repot punya biola, bukan? Namun violis mampu menala sendiri instrumennya (dengan gratis, tentunya) sementara pemilik piano harus membayar orang untuk menala pianonya dan mahal pula. Senar biola cuma empat biji sedangkan senar piano lebih dari 200 buah tergantung dengan jenisnya.

Mengapa Piano Ditala?
Hal tersebut paling sering ditanyakan. Saya dengar tidak fals, kok? Pertanyaan tersebut terlontar karena berakhir ke UUD: ujung-ujungnya duit. Tukang tala dianggap mencari untung dengan menyarankan penalaan secara berkala dan pemilik piano merasa harus merogoh kocek untuk membiayai biaya stem yang tidak murah dan secara berkala lagi.

Seperti instrumen berdawai lainnya, piano bekerja karena adanya vibrasi dari senar. Senar yang bervibrasi akan menjadi terjadi simpangan dari posisi b ke posisi a lalu ke posisi b lalu ke c lalu kembali ke posisi b untuk seterusnya ke posisi a (lihat gambar). Hal tersebut terjadi dengan terus menerus untuk jangka waktu tertentu dan berlangsung sangat cepat sesuai dengan frekuensinya. Makin tinggi frekuensinya, makin banyak vibrasinya. Hal tersebut membuat senar pada titik x dan titik y menjadi berubah dan menyebabkan senar menjadi kendor. Kendornya senar ini menyebabkan senar makin lama makin out of tune atau fals. Itulah sebabnya senar pada bagian yang sering dimainkan dan senar yang bernada tinggi sering berubah penalaannya.

Penyebab lainnya adalah suhu dan kelembapan yang disebabkan oleh cuaca. Jika suhu bertambah maka senar akan memuai dan menyebabkan nada yang berbunyi akan menjadi turun dan jika suhu dingin maka nada yang dihasilkan akan naik karena senar yang menyusut. Hal tersebut menyebabkan piano di negara-negara dengan 4 musim disarankan untuk menala piano 4 kali setahun. Nah, jika suhu kembali normal maka senar-senar akan kembali ke kondisinya semula oleh karena itu tidak perlu ditala lagi bukan? Sayangnya kelembaman tiap senar berbeda-beda sehingga senar-senar tidak dapat menala dirinya sendiri. Seorang piano tuner tetap dibutuhkan begitu pula pengeluaran ekstra.

Memindahkan piano juga merupakan hal yang dapat menyebabkan penalaan jadi berubah. Getaran yang ditimbulkan akibat dorongan atau benturan akan membuat ketegangan senar berubah, oleh karena itu penalaan diperlukan setiap kali piano dipindahkan.

Kapan piano harus ditala?
Baik pada piano yang sering dimainkan maupun yang hanya untuk pajangan, perlu ditala secara berkala. Cuaca yang sangat berpengaruh pada senar piano sehingga pada setiap pergantian musim, piano perlu ditala. Untuk negara dengan 4 musim, piano perlu ditala 4 kali setahun. Tunggulah pada pertengahan musim dimana suhu dan kelembaban relatif stabil barulah penalaan dilakukan. Beruntunglah yang tinggal di negara tropis (meski banyak pemilik piano di negara subtropis juga menala pianonya 2 kali setahun karena alasan biaya tentunya) seperti kita yang cuma memiliki 2 musim sehingga menala piano 2 kali setahun sudah cukup. Toh, kita hanya perlu menala piano pada musim hujan serta musim kemarau, sehingga tidak perlu menala piano setiap musim rambutan, musim durian, atau musim mangga.

Jika pemilik piano di negara subtropis men-discount penalaan pianonya sampai 50% maka hal tersebut berlaku pula di negara tropis. Piano ditala cuma setahun sekali. Pemilik piano, baik negara tropis maupun subtropis, cuma menala piano setahun sekali. Hal tersebut masih diperbolehkan namun usahakanlah menala piano pada saat yang sama, misalnya setiap bulan Februari.

Bagaimana jika piano ditala dengan durasi yang lebih lama dari setahun sekali? Katakanlah 2 tahun sekali atau kalau pada saat uang berlebih? Nah, hal tersebut tidak disarankan karena alih-alih berhemat, justru akan menghabiskan lebih banyak biaya. Biasanya piano yang lama tidak ditala akan 'turun' banyak dan membentuk kelembaman baru sehingga perlu dua kali penalaan yakni penalaan kasar untuk mengembalikanke frekuensi standar dan fine tuning untuk menala secara lebih detil. Karena senar membentuk kelembaman baru, maka senar perlu ditarik lebih banyak untuk mengembalikan senar ke penalaan standar. Hal tersebut bisa membuat senar putus. Nah, jika senar putus maka lebih berabe kan.

Piano juga perlu ditala setiap kali dipindahkan, juga kalau hendak digunakan untuk konser (kecuali untuk konser jazz tentunya). Jika tidak ingin dipusingkan dengan jadwal dan biaya tala, maka piano elektrik menjadi pilihan.

Senin, 09 Agustus 2010

Daftar Menu Berlatih

Berapa lamakah waktu yang paling ideal dalam berlatih piano? 30 menit? 1 jam? 2 jam? 5 jam? Durasi latihan dapat dibagi ke dalam 3 kategori yaitu (1) berdurasi singkat yang hanya terdiri atas satu sesi latihan, (2) berdurasi sedang yang terdiri atas dua sesi latihan, dan (2) berdurasi panjang yang terdiri atas tiga sesi latihan. Ada pun porsi latihannya sebagai berikut:

I. 1 sesi latihan

























II. 2 sesi latihan (pagi dan sore/malam)
























III. 3 sesi atau lebih
















Untuk tangga-nada, bisa memakai porsi di bawah ini
minggu I
  • senin : tangga-nada c mayor dan c minor
  • selasa : tangga-nada cis mayor dan cis minor
  • rabu : tangga-nada d mayor dan d minor
  • kamis : tangga-nada es mayor dan es minor
  • jumat : tangga-nada e mayor dan e minor
  • sabtu : tangga-nada f mayor dan f minor
  • minggu: mengulangi semua tangga-nada yang dilatih pada minggu I

minggu II

  • senin : tangga-nada fis mayor dan fis minor
  • selasa : tangga-nada g mayor dan g minor
  • rabu : tangga-nada as mayor dan as minor
  • kamis : tangga-nada a mayor dan a minor
  • jumat : tangga-nada bes mayor dan bes minor
  • sabtu : tangga-nada b mayor dan b minor
  • minggu: mengulangi semua tangga-nada yang dilatih pada minggu II

Porsi latihan yang dibuat di atas bukanlah menjadi patokan yang ketat karena setiap individu memiliki preferensi latihan sendiri-sendiri. Lagi pula, meski pun memilih porsi latihan yang 4 jam sehari namun kualitas latihan yang buruk maka durasi latihan yang lama akan sia-sia. Misalnya porsi berlatih tangga-nada selama 30 menit namun dalam berlatih pikiran menerawang ke mana-mana tanpa berusaha memperbaiki kekurangan yang terdapat pada tangga-nada tersebut, maka sia-sialah waktu yang dipakai dalam berlatih.

Minggu, 01 Agustus 2010

Ayo Berlatih dengan Efektif

Pada umumnya, seseorang berlatih dengan memainkan keseluruhan lagu dari awal hingga pada akhir lagu. Jika ada nada atau akor yang salah dimainkan pada tengah-tengah lagu, maka ia akan berusaha untuk memperbaiki yang salah dengan mengulangnya sebentar lalu melanjutkan sampai pada akhir lagu. Dalam usaha melanjutkan latihan, jika ada kesalahan maka cara yang sama digunakan untuk memperbaiki kesalahan. Setelah sampai pada akhir lagu, maka ia akan mengulangnya lagi dari awal lagu dan menggunakan cara yang sama untuk menguasai lagu tersebut.
Cara berlatih tersebut tidaklah efektif dan akhirnya akan membutuhkan waktu yang lama untuk menguasai satu materi. Berlatih bukan berarti berlatih dengan durasi waktu yang lama, misalnya berlatih hingga berjam-jam dalam satu hari. Hal tersebut disebabkan oleh kemampuan maksimal otak manusia untuk berkonsentrasi adalah kurang lebih 100 menit pada orang dewasa dan 30 menit pada anak-anak. Maka dari itu, perlu untuk berlatih dengan cara yang efektif dengan tujuan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang muncul dalam berlatih.

Bagaimanakah cara berlatih yang baik? Berikut ini adalah langkah-langkah dalam berlatih piano.

1. Membentuk gambaran umum akan repertoar yang dimainkan.
Pada saat memainkan sebuah repertoar untuk pertama kalinya, pianis membentuk sebuah sketsa kasar dalam pikirannya akan repertoar tersebut. Dengan berlatih, maka sketsa tersebut semakin diperhalus dengan menambahkan detil-detil pada gambar sketsa tersebut dan pada akhirnya, dengan menginterpretasikan dengan baik maka gambaran tersebut diberi warna dan sentuhan terakhir sebelum dipentaskan. Untuk membuat sketsa yang baik pada pertama kali mampelajari sebuah repertoar, penting memainkan repertoar tersebut tanpa ada kesalahan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu
a. Memainkan dengan sangat lambat. Sekali lagi sangat lambat. Hal ini ditekankan di sini karena pada umumnya murid sulit untuk bermain dengan lambat atau mempertahankan tempo yang lambat sehingga ada kecenderungan temponya ‘melarikan diri’ atau menjadi cepat dengan sendirinya.
b. Menghitung atau mengetuk temponya agar ritmis dapat dimainkan benar.

c. Gunakan penjarian yang benar, terutama dalam berlatih etude.

2. Analisa
Analisa perlu dilakukan untuk mengetahui kesulitan-kesulitan apa yang akan dihadapi dalam melatih repertoar tersebut. Lagu anak Prancis yang berjudul Au Clair de Lune berikut ini sebagai contoh.


Jika repertoar tersebut dianalisa maka kita ketahui bahwa birama 1-4 sama dengan birama 5-8. Perbedaan hanya pada tangan kiri birama 4 dengan birama 8, sehingga sesungguhnya yang perlu dilatih adalah 4 birama plus setengah birama yaitu birama 8 tangan kiri. Pada tingkat lanjut, analisa juga untuk menentukan pedal dan lainnya.

3. divide et impera
Divide et impera atau pecah belah dan kuasailah adalah taktik kuno sangat berguna, bukan saja pada politik, tetapi juga dalam berlatih piano. Dengan memecah belah, berarti tingkat kesulitan dibagi. Jika tingkat kesulitan sudah dibagi, maka akan lebih mudah menguasai repertoar tersebut. Cara yang biasa dilakukan adalah melatih tangan kanan dan tangan kiri secara terpisah terlebih dahulu. Selain itu, elemen musik juga dapat dipecah belah.
a. Ritmis

Birama 1-4 dari lagu Au Clair de Lune di atas sebagai contoh.

Latihlah ritmisnya seperti berikut:

Memainkan ritmis tersebut bisa dilakukan dengan menekan nada apa saja pada piano dengan tangan kanan. Latihlah bagian tangan kiri dengan cara yang sama. Jika sudah familiar dengan ritmis masing-masing bagian, maka berlatihlah kedua tangan bersamaan dengan memainkan ritmisnya. Contoh di bawah ini, diambil dari lagu Au Clair de Lune birama 1-4.

b. Pitch

Masih dari contoh 4 birama di atas, latihlah pitch bagian tangan kanan saja seperti contoh di bawah. Jangan lupa untuk memperhatikan penjarian.

Berlatihlah dengan cara yang sama untuk tangan kiri.

c. Ritmis dan pitch

Langkah selanjutnya adalah menggabungkan ritmis dan pitch untuk dimainkan secara bersamaan. Dengan berlatih dengan cara ini, maka kita telah berlatih seperti yang tertulis pada repertoar. Ingatlah untuk melatih bagian tangan kanan dan bagian tangan kiri secara terpisah.

4. One United
Langkah terakhir adalah menggabungkan latihan di atas dan memainkan secara bersamaan bagian tangan kanan dan tangan kiri. Ingatlah untuk selalu berlatih dengan tempo yang lambat. Jika sudah lancar maka tempo secara bertahap dinaikkan sampai mencapai tempo yang diinginkan. Lebih mudah untuk menaikkan tempo secara bertahap dari pada berlatih langsung berdasarkan tempo seharusnya karena akan menghancurkan jerih payah latihan yang sudah dicapai sebelumnya. Selain itu, pengguasaan repertoar yang dilatih akan menghabiskan waktu yang lebih lama.

Sabtu, 24 Juli 2010

Czerny lagi, Czerny lagi!

Kalimat tersebut sering muncul sewaktu guru memberi bahan étude atau study atau latihan (sulit untuk menemukan kata dalam bahasa Indonesia yang cocok sehingga menggunakan kata asalnya, étude) yang pada umumnya berasal dari karya Czerny. Mengapa? Berlatih Czerny sungguh membosankan. Tidak ada bagian yang melodis, yang ada hanya repetisi dengan banyak sekuen. Setelah berlatih dengan susah payah, étude tersebut tidak pernah dipentaskan dan hanya semata-mata dipentaskan di ruang latihan atau kamar praktek. Selain itu, yang dengar hanya guru (kadang disertai kritikan pedas) dan jika beruntung, beberapa teman sesama murid piano juga ikut mendengarkan. Makanya, jadi malas untuk berlatih Czerny. Etude yang menarik untuk dilatih dan dipentaskan adalah étude-nya Liszt, Chopin, dan Debussy. Namun untuk mempelajari etude- etude tersebut butuh ketrampilan yang tinggi dan jika memohon guru untuk mempelajari étude- étude tersebut maka guru akan memberikan latihan persiapan yang lagi lagi diambil dari Czerny.
Jadi, siapakah Czerny itu? Czerny, yang bernama lengkap Carl Czerny (kadang juga ditulis Karl) lahir tanggal 21 Februari 1791 di Wina, Austria dari sebuah keluarga musisi keturunan Ceko. Kakeknya seorang violis dan ayahnya, Wenzel Czerny, seorang oboist, organis, dan pianis yang juga menjadi guru piano pertama Czerny. Beethoven tertarik menjadikannya murid setelah melihat Czerny, yang waktu itu berumur 10 tahun, memainkan Sonata Pathetique. Selain berguru selama 3 tahun pada Beethoven , Czerny berguru pada Johann Nepomuk Hummel dan Antonio Salieri. Beliau juga mengikuti kursus yang diadakan oleh Muzio Clementi di Paris, Wina, St. Petersburg, Berlin, Praha, Roma dan Milan.
Karirnya sebagai pianis bermula pada usia 9 tahun dengan membawakan Piano Concerto in c minor nomor 24 karya Mozart. Dia juga yang membawakan Piano Concerto nomor 5 karya Beethoven untuk pertama kalinya. Namun karirnya yang paling sukses adalah sebagai guru piano. Beliau mendasarkan pelajaran piaononya pada metode Beethoven dan Clementi. Banyak komponis besar yang pernah berguru padanya, antara lain Sigismond Thalberg, Stephen Heller, Alfred Jaëll, Theodor Leschetizky, Theodor Kullak, Theodor Döhler, dan yang paling terkenal sebagai virtuos piano adalah Franz Liszt.
Hal itulah yang membuat Czerny lebih dikenal sebagai guru piano. Beliau menulis banyak sekali étude untuk piano antara lain The School of Velocity Op. 299 dan The Art of Finger Dexterity Op. 740. Czerny pula yang pertama kali menggunakan étude untuk karyanya. Meski menulis banyak étude, namun Czerny juga banyak menulis karya lain seperti symphony, misa dan requiem, konserto, sonata, dan kwartet gesek, namun jarang sekali dipentaskan untuk masa sekarang. Karya yang banyak dimainkan adalah étude- étude-nya. Itu pun hanya di kamar praktek. Meski pun demikian, banyak pianis ternama lahir berkat étude- étude-nya.
Czerny tidak pernah menikah, sehingga pada saat wafatnya tanggal 15 Juli 1857, beliau mewariskan seluruh hartanya untuk membantu sahabatnya.
Salah satu murid Czerny yang sangat terkenal, baik sebagai komponis maupun sebagai seorang virtuos piano, adalah Franz Liszt dan Liszt seumur hidupnya hanya berguru pada Czerny. Lizst pada bulan-bulan pertama belajar piano, Czerny hanya mengajarkan tangga-nada dan étude.
Maukah menjadi pianis yang virtuoso seperti Liszt?”
Jika ya, rajinlah berlatih Czerny.

Minggu, 18 Juli 2010

Mari berlatih tangga-nada

Berlatih tangga-nada atau scales bukanlah yang digemari oleh murid-murid piano pada umumnya. Membosankan dan tidak menyenangkan adalah alasan yang sering diajukan. Jika demikian, lalu kenapa para guru piano mengajarkan tangga-nada? Tangga-nada bahkan menjadi materi ujian pokok sampai pada yang berkelas internasional seperti Associated Board of the Royal Schools of Music. Jika merupakan bagian pokok dalam ujian praktek piano, berarti tangga-nada merupakan salah satu indikator kemampuan seorang pianis oleh karena itu tanga-nada harus dilatih sebaik melatih sonata atau karya piano lainnya.

Jika tangga-nada sedemikian pentingnya, maka perlu dilatih dengan baik. Sebenarnya memainkan tangga-nada sangat mudah karena tidak perlu diinterpretasikan seperti karya piano lainnya. Belum pernah terdengar bahwa tangga-nada dimainkan dengan gaya Barok, atau Romantik. Cukup dengan berkonsentrasi pada hal berikut.

1. Mendengarkan setiap nada yang dimainkan.

Kesalahan yang umum dilakukan waktu berlatih tangga-nada adalah langsung memainkannya dengan dua tangan bersamaan dan karena merupakan hafalan, maka pikiran melayang ke mana-mana sewaktu memainkannya. Konon, Clara Schumann membaca surat-suratnya pada saat berlatih tangga-nada. Namun, hal tersebut tidak dianjurkan untuk pianis pemula. Konsentrasi mendengarkan tiap nada yang dimainkan sangatlah perlu dalam berlatih tangga-nada, untuk itu berlatihlah dengan tangan terpisah atau satu tangan. Mengapa? Karena setiap nada yang dimainkan harus berbunyi dengan intensitas bunyi yang sama padahal anatomi setiap jari tidak sama. Menekan nada dengan jari jempol yang lebih besar akan berbeda jika menekan nada dengan jari kelingking yang jauh lebih kecil. Dengarkanlah tiap nada yang dimainkan, apakah sudah berbunyi dengan intersitas yang sama. Perhatikan juga apakah setiap nada sudah dimainkan dengan penjarian yang benar.

Jika berlatih dengan tangan terpisah sudah berhasil, barulah mencoba memainkan dengan dua tangan secara bersamaan. Dalam berlatih dengan dua tangan, intensitas nada yang dimainkan harus sama antara tangan kiri dengan tangan kanan. Jangan sampai tangan kanan berbunyi lebih keras dibandingkan tangan kiri, atau sebaliknya. Jika memainkan tangga-nada C (misalnya) dengan kedua tangan, maka nada c di tangan kiri akan dimainkan dengan jari kelingking dan nada c di tangan kanan akan dimainkan dengan jari jempol. Secara anatomi, jari kelingking dan jari jempol tidaklah sama dan berlatih tangga-nada bertujuan untuk mengontrol hal ini.

Tips:

jika berlatih dengan dua tangan bersamaan, berlatihlah dengan tangga-nada berlawanan karena penjarian yang digunakan tangan kanan maupun kiri adalah sama.

Saran :

Schmitt op. 16 no 1 dan 2 serta bagian preparatory exercises to scales and arpeggio adalah materi yang bagus untuk mulai berlatih tangga-nada.

2. Relaks dan fleksibel

Fokuslah pada pergerakan otot-otot di mana pergerakannya harus selalu relaks dan fleksibel sepanjang tangga-nada dilatih. Pegelangan tangan juga harus dijaga agar tetap relaks agar memungkinkan tangan lebih luwes saat menekuk jari jempol untuk penjarian 1 2 3 1 atau 5 4 3 2 1 3. Manfaat lainnya adalah tangan dan jari yang luwes memungkinkan untuk bermain bagian-bagian lagu maupun sonata yang bertempo cepat kelak. Sebaiknya tidak berlatih dengan memainkan tiap nada dengan keras atau forte karena selain akan membuat pegelangan kaku, warna suara yang dihasilkan akan kasar.

Tips:

Latihlah tangga-nada dengan tempo lambat dan dinamik pianissimo atau sangat lembut. Saya kadang menyarankan agar tuts ditekan sampai habis namun nada tersebut tidak boleh bunyi dengan tujuan untuk melatih control terhadap jari.

3. Main dengan ritmis dan tempo yang stabil

Mulai berlatih dengan tempo yang stabil. Umumnya jika menghadapi bagian yang sulit, maka tempo cenderung melambat dan kembali cepat jika sampai pada bagian yang mudah. Jika bukan tempo yang berubah-rubah, maka nilai nada akan menjadi lebih panjang jika memainkan bagian yang sulit dan kembali menjadi lebih pendek jika kembali pada bagian yang mudah. Hindari kedua hal tersebut.

Berlatihlah tangga-nada secara rutin terutama jika waktu tidak memungkinkan untuk berlatih lagu. Berlatih tangga-nada akan membuat keluwesan dan ketrampilan tetap terjaga. Nah, tunggu apa lagi? Matikan komputer dan mulailah berlatih.

Minggu, 11 Juli 2010

Mengetahui usia piano dari no serinya

Bagi beberapa orang, membeli piano baru jelas lebih bergengsi karena piano adalah simbol kaum borjuis. Bagi yang berkantong kurang tebal, piano second menjadi pilihan (selain mempertimbangkan membeli piano elektrik, tentunya). Namun membeli piano second perlu ekstra teliti. banyak hal yang perlu dipertimbangkan terutama kondisi piano (hammer, action, soundboard, senar, dan lain sebagainya) dan usia piano.

Untuk piano dengan merek Yamaha, yang banyak dikenal di Indonesia, kita dapat mengetahui tahun pembuatan dengan melihat nomor serinya. Dari nomor seri tersebut kita juga bisa tahu pabrik pembuatan piano tersebut. Pabrik piano Yamaha ada 4, yaitu pusatnya di Hamamatsu (Jepang), Thomaston (Giorgia, AS), South Haven (Michigan, AS) dan mulai tahun 2000 dibuka pabrik di Jakarta.

Nomor seri piano biasanya tertera pada iron frame-nya. Jika tutup piano dibuka, maka no serinya terdapat pada sisi sebelah kanan kita. Adapun kode pada nomor seri yang berhubungan dengan pabrik piano tersebut antara lain :

Upright piano
  1. Jika nomor seri diawali dengan simbol T (misallnya T500101) maka piano tersebut dibuat di Thomaston, AS.
  2. Jika nomor seri diawali dengan simbol U, maka piano tersebut dibuat dibuat di South Haven, AS.
  3. Jika tinggi piano di atas 114,3 cm atau 45 inci, maka piano tersebut dibuat di Hamamatsu, Jepang.
  4. Jika tinggi piano di bawah 114,3 cm atau 45 inci dan memiliki tujuh digit nomor seri, maka piano tersebut dibuat di Hamamatsu, Jepang.
Grand Piano
  1. Jika grand piano memiliki no seri GA1E, DGA1E, GB1, atau DGB1, maka grand piano tersebut dibuat di Jakarta.
  2. Jika grand piano memiliki no seri GH1G, GH1FP, GC1G, atau GC1FP, maka grand piano tersebut dibuat di Thomaston, AS.
  3. Selain kode di atas, maka grand piano tersebut dibuat di Hamamatsu, Jepang.
Mengetahui lokasi pembuatan piano adalah penting karena piano yang dibuat untuk negara beriklim sub tropis tidaklah cocok digunakan di negara tropis, begitu pula sebaliknya. Sebagai contoh, keytop yang terdapat pada tuts piano yang terbuat dari gading (ingat lagu Ebony and Ivory). Keytop yang terbuat dari gading akan menguning dan membentuk lipatan-lipatan pada permukaannya, oleh karena itu tidak disarankan untuk membeli piano dengan keytop gading gajah karena teknologi baru menambahkan elemen anti slip pada keytop plastik. Selain itu, akan membantu mengurangi perburuan gajah ilegal.

Ada pun tahun pembuatan dan nomor serinya adalah sebagai berikut:


Bulan Tahun Produksi

No seri


Bulan Tahun Produksi

No seri

Januari-61

149000

Juni-66

540000

Juni-61

164000

Januari-67

570000

Januari-62

188000

Juni-67

638000

Juni-62

207000

Januari-68

685000

Januari-63

237000

Juni-68

758000

Juni-63

261000

Januari-69

805000

Januari-64

298000

Juni-69

885000

Juni-64

329000

Januari-70

960000

Januari-65

368000

Juni-70

1040000

Juni-65

420000

Januari-71

1130000

Januari-66

489000

Juni-71

1230000







Bulan Tahun Produksi

No seri

Piano Upright

Grand piano

Januari-72

1317500

1358500

Juni-72

1391000

1443500

Januari-73

1510500

1538500

Juni-73

1604000

1623000

Januari-74

1745000

1753500

Juni-74

1834000

1843000

Januari-75

1945000

1935000

Juni-75

2036000

2043000

Januari-76

2154000

2153000

Juni-76

2247000

2253000

Januari-77

2384000

2362000

Juni-77

2474000

2462000

Januari-78

2585000

2580500

Juni-78

2698000

2720000

Januari-79

2810500

2848000

Juni-79

2825000

2900000

Januari-80

3001000

3040000

Juni-80

3121000

3140000

Januari-81

3261000

3270000

Juni-81

3354000

3360000

Januari-82

3465000

3490000

Juni-82

3551000

3590000

Januari-83

3646200

3710500

Juni-83

3724100

3790400

Januari-84

3832200

3891600

Juni-84

3989000

3992300

Januari-85

3987600

4040700

Juni-85

4095500

4130400

Januari-86

4156500

4214600

Juni-86

4241000

4250700

Januari-87

4334800

4351100

Juni-87

4387300

4440000

Januari-88

4491300

4561000

Juni-88

4557800

4633500

Januari-89

4672700

4671400

Juni-89

4735200

4730800

Januari-90

4837200

4810900

Juni-90

4897800

4871000

Januari-91

4967900

4951200

Juni-91

5005600

5010100

Januari-92

5086800

5071800

Juni-92

5127800

5120700

Januari-93

5204100

5181400

Juni-93

5224900

5230000

Januari-94

5296400

5291500

Juni-94

5330000

5319000

Januari-95

5375000

5368000

Juni-95

5415000

5410000

Januari-96

5446000

5448000

Juni-96

5482000

5472000

Januari-97

5530000

5502000

Juni-97

5556000

5516000

Januari-98

5579000

5588000

Juni-98

5598000

5608000

Januari-99

5792000

5810000

Juni-99

5833000

5819000

Januari-00

5868000

5860000

Juni-00

5892000

5874000

Januari-01

5928000

5913000

Juni-01

5949000

5933000

Januari-02

5978000

5963000

Juni-02

5993000

5986000

Januari-03

6021000

6019000

Juni-03

6043500

6041500

Januari-04

6066000

6064000

Juni-04

6088000

6086500








































































Untuk piano yang dibuat di Indonesia, tahun pembuatan dan nomor serinya adalah sebagai berikut:

Tahun Produksi

No seri


Tahun Produksi

No seri

2000

1700000

2003

2000000

2001

1800000

2004

2100000

2002

1900000




Dengan mengetahui tahun pembuatan, maka masa pakai piano dapat diketahui. Masa pakai piano baru, jika terawat, adalah 50 tahun. Untuk piano second, jika direnovasi, masa pakainya juga 50 tahun. Sebagai contoh, jika membeli piano dengan no seri 4491325 misalnya, piano tersebut dibuat pada paruh awal tahun 1988, 22 tahun yang lalu sehingga masa pakainya tinggal 28 tahun lagi.

Jika hendak membeli piano, maka nomor seri merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan.

Piano Sheet Meraih Bintang Lagu Tema Asian Games

Lagu ini menggunakan tangga-nada C minor namun agar mudah dipelajari, partitur ini ditulis dalam tangga-nada natural.  Partitur dalam ta...