Minggu, 29 Agustus 2010

Mengatasi Demam Panggung ala Ferdy Tumakaka

Setiap orang yang akan pentas di depan penonton tentu mengalami demam panggung. Demam panggung terjadi bisa disebabkan karena situasi di panggung yang berbeda dengan ruang latihan, ekspektasi yang tinggi dari penonton, dan lain sebagainya. Berikut ini, Ferdy Tumakaka, seorang pianis Indonesia yang telah lama malang melintang di dunia, akan membagikan cara-cara untuk menghilangkan demam panggung.

1. Tidur cukup malam sebelumnya

2. No caffeine dan nicotine 2 jam sebelum naik panggung

3. Potassium sangat membantu untuk menenangkan saraf (bisa ditemukan di buah-buahan seperti pisang, kiwi, dsb.)

4. Meditasi dan beragam teknik pernafasan dapat sangat membantu untuk mengatasi demam panggung.

5. Alexander Technique bisa membantu tidak hanya saat demam panggung, tapi juga untuk kegiatan sehari-hari.

6. Pusatkan pikiran pada bahan yang akan dimainkan, terutama not pertama, bagaimana memulai karya tersebut. Nyanyikan awal karya tersebut dengan tempo sedikit lebih lambat dari yang anda kira seharusnya.

7. Jika anda cenderung tegang pada saat sebelum naik panggung, identifikasi pusat ketegangan, kenali dan coba untuk rileks dan rasakan darah anda mengalir ke ujung2 jari.

8. Tips terakhir: demam panggung bukanlah musuh anda, malah bisa menjadi sahabat terbaik anda. Jadi cobalah mengerti bahwa demam panggung itu wajar, dan kenali tendensi2 pribadi yang kerap muncul saat demam panggung dan belajar bagaimana menerima reaksi2 tersebut.

Alhasil, anda akan mengenali bagaimana tubuh anda bereaksi di saat gugup, mengambil alih dan membiarkan musik mengalir dari jari-jemari anda.

Minggu, 22 Agustus 2010

Kapan Usia yang Tepat untuk Mulai Belajar Piano?

Seorang ibu bertanya kepada seorang guru piano, "Apakah anak saya sudah telat belajar piano?" "Berapa usia anak ibu?" tanya sang guru. "Tujuh tahun." jawab sang ibu. Sang guru menjawab, "Berarti sudah telat belajar delapan tahun."

Illustrasi di atas menggambarkan bagaimana pentingnya belajar musik dari usia yang sangat dini bahkan dari dalam kandungan karena indera pendengaran adalah indra yang paling pertama berkembang. Oleh karena itu, harus terus diberi stimulus agar terus dapat berkembang dengan maksimal. Namun, bayi yang sudah berusia dua atau tiga tahun pun sulit untuk mulai belajar piano apalagi dalam kandungan.

Di Australia, guru piano menerima anak yang mulai belajar pada usia 7 tahun. Kadang kala 6 tahun. Hal itu disebabkan karena pada usia tersebut perkembangan otak anak sudah dapat mengerti simbol (abjad dan not), perkembangan motorik halus sudah terbentuk, dan anak sudah dapat menfokuskan perhatian untuk jangka waktu yang cukup lama.

Namun, tidak dipungkiri bahwa pianis-pianis yang virtuoso memulai pelajaran pada usia yang sangat dini, yakni sekitar tiga atau empat tahun. Lang Lang, mulai belajar piano dari umur tiga tahun dan pada umur lima tahun, ia sudah memenangkan Shenyang Piano Competition. Jadi, jika mulai belajar piano pada usia enam atau tujuh, maka sudah dikatakan terlambat untuk menjadi seorang concert pianist. Pendapat lain berkata bahwa ketika anak sudah dapat meletakkan jari-jarinya, satu jari untuk satu tuts tanpa kesulitan, maka ia sudah dapat mulai belajar piano. Nah, dari sekian banyak pendapat tersebut, manakah yang tepat?

Pembelajaran musik atau piano dibagi dalam dua kelompok yaitu lewat pendidikan formal (seperti di sekolah atau kursus) dan non formal. Jika seorang ibu menyanyi untuk menina-bobokan anaknya, maka pendidikan musik non formal sudah terjadi. Dewasa ini, bayi dalam kandungan pun sudah diperdengarkan musik yang nota bene juga merupakan pendidikan musik non formal.

Untuk mempersiapkan anak untuk menempuh pendidikan musik secara formal maka haruslah melihat kesiapan dari orang tua dan juga anak.

A. Orang tua

1. Apakah orang tua sanggup menyediakan piano (minimal piano digital) untuk anaknya?

Ini penting, karena jika tidak memiliki piano, anak dapat berlatih. Kadang orang tua menyatakan, cukup beli yang seadanya. Jika sang anak akhirnya tidak tertarik untuk belajar lagi, maka kerugian membeli piano yang mahal dapat dikurangi. Hal ini sama sekali tidak disarankan. Mengapa? Karena anak yang baru belajar, guru akan membentuk fondasi yang kokoh untuk mendukung ketrampilan anak bermain piano kelak. Fondasi yang kuat dan kokoh tidak akan terbentuk. Beberapa murid piano jadi malas belajar hanya karena tuts pianonya 'lengket' dan tidak bunyi. Apakah anak akan terus belajar atau tidak, itu tergantung dari kesiapan anak (yang akan dibahas berikutnya) dan kepiawaian gurunya memotivasi anak.

2. Apakah dapat mengalokasikan dana secara regular?
Dalam hal ini, untuk membayar biaya kursus setiap bulan dan jika memiliki piano akustik, sanggup membayar biaya penalaan piano minimal dua kali setahun (baca : Mengapa dan Kapan Piano ditala?)

3. Apakah dapat mengalokasikan waktu?
Jika anak belajar piano, maka orang tua harus meluangkan waktu minimal untuk mengantar jemput anak ke dan dari tempat kursus. Jika berhalangan, orang tua dapat mendelegasikan tugs tersebut pada orang lain yang dapat dipercaya. Selain itu, apakah orang tua sanggup meluangkan waktu untuk menemani anaknya berlatih setiap hari jika diminta sang anak untuk menemani serta mengontrol kemajuan belajar? Berbeda dengan kursus lainnya (matematika, misalnya), kursus piano butuh latihan secara kontinyu setiap hari, bukan hanya di tempat kursus saja.

4. Apakah orang tua dapat memberikan dukungan moril?

Selain memberikan semangat untuk terus berlatih, dukungan orang tua dapat berupa kehadiran jika sang anak ikut resital. Dukungan moril lainnya dapat berupa memberi apresiasi kepada anak dengan mengajak nonton konser piano, baik secara langsung maupun lewat CD/DVD. Secara singkat, mampukah orang tua menciptakan lingkungan bermusik yang baik bagi anak. Untuk anak yang lebih kecil, dukungan moril berupakehadiran orang tua untuk ikut duduk dalam kelas menemani anak untuk belajar. Pada saat di rumah,  orang tua dapat meluangkan waktu untuk menemani anak berlatih.

B. Anak

Sebenarnya hanya satu pertanyaan penting yang harus dijawab dengan melihat minat anak, yaitu:

Apakah anak menunjukkan tanda-tanda menyukai musik dan piano pada khususnya?

Setiap anak unik dan berbeda. Ada anak yang gemar mencorat coret, sementara anak lain seusianya gemar menyusun benda-benda, sementara lainnya gemar bernyanyi, dan lain sebagainya. Jika anak menunjukkan minat kepada musik, maka mungkin saat yang tepat untuk mulai belajar musik.

Pertanyaan hanya perlu dijawab jika anak hendak mengikuti kursus musik dengan metode konvensional. Pertanyaan-pertanyaan tersebut antara lain:

1. Apakah anak sudah sanggup untuk memusatkan perhatian minimal selama 30 menit?

Pada umumnya, anak yang berusia dibawah 6 tahun cepat bosan. Jadi untuk dapat mengikuti pelajaran piano dengan baik, anak harus bisa berkonsentrasi pada pelajarannya. Namun pada metode non konvensional, guru biasanya melakukan banyak aktivitas pada saat kursus sehingga anak tidak akan cepat bosan. Jadi peran guru sangatlah penting agar anak tidak menjadi bosan sebelum jam pelajaran berakhir. 

2. Apakah fisiologi anak sudah memadai untuk instrumen piano?

Gurulah yg dapat menjawab pertanyaan ini. Pada umumnya guru akan melihat apakah kelima jari dapat diletakkan pada tuts, satu jari satu tuts tanpa susah payah.

3. Apakah anak sudah bisa membaca atau mengenal simbol?

Pada metode konvensional, murid belajar membaca notasi balok (bukan berarti membaca notasi balok tidak penting untuk metode non konvensional). Murid harus dapat mengerti simbol notasi balok dan menerjemahkannya menjadi bunyi. Anak yang mampu menerjemahkan simbol biasanya sudah bisa membaca atau perkembangan kognitifnya sudah sampai pada perkembangan opersional konkrit, menurut teori Piaget. Tahapan perkembangan kognitif ini terjadi pada sekitar umur tujuh tahun, oleh karena itu biasanya guru menerima murid piano pada usia 7 tahun atau setidaknya 6 tahun. 

Ketiga hal terakhir dapat diatasi dengan guru dan metode yang tepat. Untuk mendapatkan guru dan metode yang tepat adalah gampang gampang sulit karena harus disesuaikan dengan sang anak yang memiliki karakter yang berbeda-beda antara satu anak dengan lainnya.

Minggu, 15 Agustus 2010

Mengapa dan Kapan Piano Ditala?

Memiliki piano berarti harus menyediakan duit ekstra secara berkala untuk menalanya. Menala (atau stem atau tuning) perlu dilakukan pada jangka waktu tertentu agar bunyi yang dihasilkan piano tetap harmonis berdasarkan hukum akustik dan estetika.
Sebenarnya pemilik piano lebih beruntung dibandingkan pemilik biola, misalnya. Piano cukup ditala selama selang waktu beberapa bulan sekali, sedangkan biola harus ditala setiap kali dimainkan. Lebih repot punya biola, bukan? Namun violis mampu menala sendiri instrumennya (dengan gratis, tentunya) sementara pemilik piano harus membayar orang untuk menala pianonya dan mahal pula. Senar biola cuma empat biji sedangkan senar piano lebih dari 200 buah tergantung dengan jenisnya.

Mengapa Piano Ditala?
Hal tersebut paling sering ditanyakan. Saya dengar tidak fals, kok? Pertanyaan tersebut terlontar karena berakhir ke UUD: ujung-ujungnya duit. Tukang tala dianggap mencari untung dengan menyarankan penalaan secara berkala dan pemilik piano merasa harus merogoh kocek untuk membiayai biaya stem yang tidak murah dan secara berkala lagi.

Seperti instrumen berdawai lainnya, piano bekerja karena adanya vibrasi dari senar. Senar yang bervibrasi akan menjadi terjadi simpangan dari posisi b ke posisi a lalu ke posisi b lalu ke c lalu kembali ke posisi b untuk seterusnya ke posisi a (lihat gambar). Hal tersebut terjadi dengan terus menerus untuk jangka waktu tertentu dan berlangsung sangat cepat sesuai dengan frekuensinya. Makin tinggi frekuensinya, makin banyak vibrasinya. Hal tersebut membuat senar pada titik x dan titik y menjadi berubah dan menyebabkan senar menjadi kendor. Kendornya senar ini menyebabkan senar makin lama makin out of tune atau fals. Itulah sebabnya senar pada bagian yang sering dimainkan dan senar yang bernada tinggi sering berubah penalaannya.

Penyebab lainnya adalah suhu dan kelembapan yang disebabkan oleh cuaca. Jika suhu bertambah maka senar akan memuai dan menyebabkan nada yang berbunyi akan menjadi turun dan jika suhu dingin maka nada yang dihasilkan akan naik karena senar yang menyusut. Hal tersebut menyebabkan piano di negara-negara dengan 4 musim disarankan untuk menala piano 4 kali setahun. Nah, jika suhu kembali normal maka senar-senar akan kembali ke kondisinya semula oleh karena itu tidak perlu ditala lagi bukan? Sayangnya kelembaman tiap senar berbeda-beda sehingga senar-senar tidak dapat menala dirinya sendiri. Seorang piano tuner tetap dibutuhkan begitu pula pengeluaran ekstra.

Memindahkan piano juga merupakan hal yang dapat menyebabkan penalaan jadi berubah. Getaran yang ditimbulkan akibat dorongan atau benturan akan membuat ketegangan senar berubah, oleh karena itu penalaan diperlukan setiap kali piano dipindahkan.

Kapan piano harus ditala?
Baik pada piano yang sering dimainkan maupun yang hanya untuk pajangan, perlu ditala secara berkala. Cuaca yang sangat berpengaruh pada senar piano sehingga pada setiap pergantian musim, piano perlu ditala. Untuk negara dengan 4 musim, piano perlu ditala 4 kali setahun. Tunggulah pada pertengahan musim dimana suhu dan kelembaban relatif stabil barulah penalaan dilakukan. Beruntunglah yang tinggal di negara tropis (meski banyak pemilik piano di negara subtropis juga menala pianonya 2 kali setahun karena alasan biaya tentunya) seperti kita yang cuma memiliki 2 musim sehingga menala piano 2 kali setahun sudah cukup. Toh, kita hanya perlu menala piano pada musim hujan serta musim kemarau, sehingga tidak perlu menala piano setiap musim rambutan, musim durian, atau musim mangga.

Jika pemilik piano di negara subtropis men-discount penalaan pianonya sampai 50% maka hal tersebut berlaku pula di negara tropis. Piano ditala cuma setahun sekali. Pemilik piano, baik negara tropis maupun subtropis, cuma menala piano setahun sekali. Hal tersebut masih diperbolehkan namun usahakanlah menala piano pada saat yang sama, misalnya setiap bulan Februari.

Bagaimana jika piano ditala dengan durasi yang lebih lama dari setahun sekali? Katakanlah 2 tahun sekali atau kalau pada saat uang berlebih? Nah, hal tersebut tidak disarankan karena alih-alih berhemat, justru akan menghabiskan lebih banyak biaya. Biasanya piano yang lama tidak ditala akan 'turun' banyak dan membentuk kelembaman baru sehingga perlu dua kali penalaan yakni penalaan kasar untuk mengembalikanke frekuensi standar dan fine tuning untuk menala secara lebih detil. Karena senar membentuk kelembaman baru, maka senar perlu ditarik lebih banyak untuk mengembalikan senar ke penalaan standar. Hal tersebut bisa membuat senar putus. Nah, jika senar putus maka lebih berabe kan.

Piano juga perlu ditala setiap kali dipindahkan, juga kalau hendak digunakan untuk konser (kecuali untuk konser jazz tentunya). Jika tidak ingin dipusingkan dengan jadwal dan biaya tala, maka piano elektrik menjadi pilihan.

Senin, 09 Agustus 2010

Daftar Menu Berlatih

Berapa lamakah waktu yang paling ideal dalam berlatih piano? 30 menit? 1 jam? 2 jam? 5 jam? Durasi latihan dapat dibagi ke dalam 3 kategori yaitu (1) berdurasi singkat yang hanya terdiri atas satu sesi latihan, (2) berdurasi sedang yang terdiri atas dua sesi latihan, dan (2) berdurasi panjang yang terdiri atas tiga sesi latihan. Ada pun porsi latihannya sebagai berikut:

I. 1 sesi latihan

























II. 2 sesi latihan (pagi dan sore/malam)
























III. 3 sesi atau lebih
















Untuk tangga-nada, bisa memakai porsi di bawah ini
minggu I
  • senin : tangga-nada c mayor dan c minor
  • selasa : tangga-nada cis mayor dan cis minor
  • rabu : tangga-nada d mayor dan d minor
  • kamis : tangga-nada es mayor dan es minor
  • jumat : tangga-nada e mayor dan e minor
  • sabtu : tangga-nada f mayor dan f minor
  • minggu: mengulangi semua tangga-nada yang dilatih pada minggu I

minggu II

  • senin : tangga-nada fis mayor dan fis minor
  • selasa : tangga-nada g mayor dan g minor
  • rabu : tangga-nada as mayor dan as minor
  • kamis : tangga-nada a mayor dan a minor
  • jumat : tangga-nada bes mayor dan bes minor
  • sabtu : tangga-nada b mayor dan b minor
  • minggu: mengulangi semua tangga-nada yang dilatih pada minggu II

Porsi latihan yang dibuat di atas bukanlah menjadi patokan yang ketat karena setiap individu memiliki preferensi latihan sendiri-sendiri. Lagi pula, meski pun memilih porsi latihan yang 4 jam sehari namun kualitas latihan yang buruk maka durasi latihan yang lama akan sia-sia. Misalnya porsi berlatih tangga-nada selama 30 menit namun dalam berlatih pikiran menerawang ke mana-mana tanpa berusaha memperbaiki kekurangan yang terdapat pada tangga-nada tersebut, maka sia-sialah waktu yang dipakai dalam berlatih.

Minggu, 01 Agustus 2010

Ayo Berlatih dengan Efektif

Pada umumnya, seseorang berlatih dengan memainkan keseluruhan lagu dari awal hingga pada akhir lagu. Jika ada nada atau akor yang salah dimainkan pada tengah-tengah lagu, maka ia akan berusaha untuk memperbaiki yang salah dengan mengulangnya sebentar lalu melanjutkan sampai pada akhir lagu. Dalam usaha melanjutkan latihan, jika ada kesalahan maka cara yang sama digunakan untuk memperbaiki kesalahan. Setelah sampai pada akhir lagu, maka ia akan mengulangnya lagi dari awal lagu dan menggunakan cara yang sama untuk menguasai lagu tersebut.
Cara berlatih tersebut tidaklah efektif dan akhirnya akan membutuhkan waktu yang lama untuk menguasai satu materi. Berlatih bukan berarti berlatih dengan durasi waktu yang lama, misalnya berlatih hingga berjam-jam dalam satu hari. Hal tersebut disebabkan oleh kemampuan maksimal otak manusia untuk berkonsentrasi adalah kurang lebih 100 menit pada orang dewasa dan 30 menit pada anak-anak. Maka dari itu, perlu untuk berlatih dengan cara yang efektif dengan tujuan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang muncul dalam berlatih.

Bagaimanakah cara berlatih yang baik? Berikut ini adalah langkah-langkah dalam berlatih piano.

1. Membentuk gambaran umum akan repertoar yang dimainkan.
Pada saat memainkan sebuah repertoar untuk pertama kalinya, pianis membentuk sebuah sketsa kasar dalam pikirannya akan repertoar tersebut. Dengan berlatih, maka sketsa tersebut semakin diperhalus dengan menambahkan detil-detil pada gambar sketsa tersebut dan pada akhirnya, dengan menginterpretasikan dengan baik maka gambaran tersebut diberi warna dan sentuhan terakhir sebelum dipentaskan. Untuk membuat sketsa yang baik pada pertama kali mampelajari sebuah repertoar, penting memainkan repertoar tersebut tanpa ada kesalahan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu
a. Memainkan dengan sangat lambat. Sekali lagi sangat lambat. Hal ini ditekankan di sini karena pada umumnya murid sulit untuk bermain dengan lambat atau mempertahankan tempo yang lambat sehingga ada kecenderungan temponya ‘melarikan diri’ atau menjadi cepat dengan sendirinya.
b. Menghitung atau mengetuk temponya agar ritmis dapat dimainkan benar.

c. Gunakan penjarian yang benar, terutama dalam berlatih etude.

2. Analisa
Analisa perlu dilakukan untuk mengetahui kesulitan-kesulitan apa yang akan dihadapi dalam melatih repertoar tersebut. Lagu anak Prancis yang berjudul Au Clair de Lune berikut ini sebagai contoh.


Jika repertoar tersebut dianalisa maka kita ketahui bahwa birama 1-4 sama dengan birama 5-8. Perbedaan hanya pada tangan kiri birama 4 dengan birama 8, sehingga sesungguhnya yang perlu dilatih adalah 4 birama plus setengah birama yaitu birama 8 tangan kiri. Pada tingkat lanjut, analisa juga untuk menentukan pedal dan lainnya.

3. divide et impera
Divide et impera atau pecah belah dan kuasailah adalah taktik kuno sangat berguna, bukan saja pada politik, tetapi juga dalam berlatih piano. Dengan memecah belah, berarti tingkat kesulitan dibagi. Jika tingkat kesulitan sudah dibagi, maka akan lebih mudah menguasai repertoar tersebut. Cara yang biasa dilakukan adalah melatih tangan kanan dan tangan kiri secara terpisah terlebih dahulu. Selain itu, elemen musik juga dapat dipecah belah.
a. Ritmis

Birama 1-4 dari lagu Au Clair de Lune di atas sebagai contoh.

Latihlah ritmisnya seperti berikut:

Memainkan ritmis tersebut bisa dilakukan dengan menekan nada apa saja pada piano dengan tangan kanan. Latihlah bagian tangan kiri dengan cara yang sama. Jika sudah familiar dengan ritmis masing-masing bagian, maka berlatihlah kedua tangan bersamaan dengan memainkan ritmisnya. Contoh di bawah ini, diambil dari lagu Au Clair de Lune birama 1-4.

b. Pitch

Masih dari contoh 4 birama di atas, latihlah pitch bagian tangan kanan saja seperti contoh di bawah. Jangan lupa untuk memperhatikan penjarian.

Berlatihlah dengan cara yang sama untuk tangan kiri.

c. Ritmis dan pitch

Langkah selanjutnya adalah menggabungkan ritmis dan pitch untuk dimainkan secara bersamaan. Dengan berlatih dengan cara ini, maka kita telah berlatih seperti yang tertulis pada repertoar. Ingatlah untuk melatih bagian tangan kanan dan bagian tangan kiri secara terpisah.

4. One United
Langkah terakhir adalah menggabungkan latihan di atas dan memainkan secara bersamaan bagian tangan kanan dan tangan kiri. Ingatlah untuk selalu berlatih dengan tempo yang lambat. Jika sudah lancar maka tempo secara bertahap dinaikkan sampai mencapai tempo yang diinginkan. Lebih mudah untuk menaikkan tempo secara bertahap dari pada berlatih langsung berdasarkan tempo seharusnya karena akan menghancurkan jerih payah latihan yang sudah dicapai sebelumnya. Selain itu, pengguasaan repertoar yang dilatih akan menghabiskan waktu yang lebih lama.

Piano Sheet Meraih Bintang Lagu Tema Asian Games

Lagu ini menggunakan tangga-nada C minor namun agar mudah dipelajari, partitur ini ditulis dalam tangga-nada natural.  Partitur dalam ta...